Home Berita Afi Lagi, Afi Lagi! Bukan Karena Warisan, Indonesia Tercerai Berai karena Penista...

Afi Lagi, Afi Lagi! Bukan Karena Warisan, Indonesia Tercerai Berai karena Penista Rasis Intoleran

57

Sudah seminggu ini bersliweran status yang membahas Afi, anak SMA yang dicitrakan cerdas, berwawasan dan berpikiran terbuka karena tulisannya yang–katanya–mencerahkan mengenai keberagaman.

Aku sebenarnya tidak pengen baca, tapi karena dibahas terus-menerus, akhirnya menyempatkan diri ke TKP. Baca bentar. Manggut-manggut. Lalu geleng-geleng. Lalu putar-putar. Haha.

Banyak yang menyebut tulisan itu mencerahkan. Namun bagiku, tulisan itu menyesatkan. Buat yang nggak setuju dengan pendapatku, silakan pakai retorika si Afi, “Jangan merasa paling benar.” Jadi nggak usah ikutan komentar, karena Anda sendiri tidak yakin pendapat Anda benar. Haha.

Bukannya meremehkan si Afi maupun yang memuji dia. Tapi, serius, semua argumennya lemah. (Ini pakai bahasa halus. Kalau bahasa kasar, ‘Argumennya ngawur.’)

Ini pendapatku pribadi lho ya. Aku yakin, si Afi tidak akan mempermasalahkan perbedaan pendapat ini. Karena bagaimana pun, dia sendiri nggak merasa (paling) benar. Atau setidaknya dia menganggap pendapat kami (dia dan aku) dua-duanya ada benarnya.

Dia memberi judul tulisannya ‘Warisan.’ Yang dia maksud warisan di sini adalah hal-hal yang nggak bisa dia pilih saat lahir, yaitu ras, suku, dan bangsa. Kacaunya, agama dia masukkan juga dalam kategori tersebut. Malahan, inilah yang jadi pokok/tema opininya: Mengenai agama yang hanya sebatas warisan dari orangtua. Si Anak tak bisa berbuat apapun untuk mengubahnya.

Begitu membaca bagian awal tulisan si Afi, langsung terbersit di benakku, “Jangan-jangan anak ini belum pernah denger ceramahnya Zakir Naik di Youtube.” Haha.

Dia ngaku jadi muslim (hanya) karena orangtuanya muslim. Pendapatnya mengenai ketidak-mampuan seseorang untuk berpindah agama terlihat jelas dalam kalimat, “… kita membela sampai mati sesuatu yang tidak pernah kita putuskan sendiri.”

Bagiku, ini pendapat sesat. Oke lah, bakal ada pakar yang nge-bela Afi dengan menyebut berbagai disiplin ilmu, mulai dari humaniora sampai psikologi agama. Membeberkan terton-ton istilah akademis yang bikin njebluk kepala orang ndeso.

Namun buatku yang berpikiran sederhana, adanya muallafin dan murtadin sudah jadi bukti bahwa orang bisa memutuskan sendiri agama yang mau dia anut. Termasuk si Afi. Jadi kalau dia galau karena sudah nge-bela Islam mati-matian, padahal itu bukan agama pilihannya (tapi pilihan ortunya), ya dia selalu punya pilihan untuk murtad. (Atau dia bisa mempelajari Islam lebih dalam untuk memantapkan hati. Semoga Allah memberinya hidayah.)

Janganlah kita suka cari-cari alasan. Menyalahkan keadaan atas apa yang terjadi pada kita. Padahal kita punya kemampuan akal dan kehendak bebas untuk memutuskan apa yang terbaik bagi kita.

Argumen awal yang sudah terpatahkan tadi mengindikasikan kalau bagian-bagian selanjutnya bakal lebih ancur. Dan memang benar itulah yang terjadi.

Agama yang ‘menurutnya’ hanya warisan itu, dia jadikan alasan untuk tidak bersitegang dengan penganut agama lain.

Alasan macam apa itu? Jadi meski ras/bangsa/suku/agamamu ditindas, dinistakan, direndahkan, kamu tidak akan bangkit melawan? Malu dong sama para pahlawan yang sudah berjuang memerdekakan Indonesia, kalau cara pikir penerusnya macam begini; tidak punya loyalitas untuk bela negara/agama/bangsa/negara.

Aku jadi parno, kalau suatu saat Indonesia diserang negara lain, remaja-remaja macam Afi ini akan berkata, “Aku tidak akan bersitegang dengan negara lain. Karena kita semua tidak bisa memutuskan di negara mana kita dilahirkan.” Para veteran perang kemerdekaan yang sudah sepuh-sepuh bisa-bisa bakal tepok jidat melihat tingkah Afi dan sejenisnya.

Lebih lanjut, dia mengajak semua penganut agama agar tak merasa paling benar. Nah, ini retorika sekuler/pluralis paling sakti. Aku sebut sakti, karena banyak yang terjebak.

Padahal jika manusia tidak merasa benar, dia tidak akan mempunyai kekuatan untuk melakukan apapun. Bahkan orang paling sesat pun, memerlukan pembenaran atas perbuatannya. Si Afi pun, mungkin, ketika berpendapat ‘tidak boleh ada yang merasa paling benar’, sebenarnya dia merasa pendapatnya itulah yang paling benar, sehingga dia berinisiatif menuliskannya di medsos.

Pencerahan lain, coba tebak, apakah Rasulullah Muhammad saw merasa dirinya paling benar (sementara orang kafir Quraisy salah) ketika beliau mendakwahkan Islam? Kalau beliau meragukan ke-paling-benaran agamanya sendiri, mana mungkin berkorban sedemikian rupa demi Islam?

Jadi tidak ada yang salah dengan ‘merasa paling benar’. Yang salah adalah orang yang memaksakan kebenaran versinya itu kepada orang lain. Bedakan dua hal ini. Lakum diinukum, wa liya diin.

Nah, ngawurnya si Afi, dia samakan dua hal itu.

Setelah dia bilang ‘jangan merasa paling benar’, dia kemudian lanjut ke ‘bayangkan jika semua orang memaksakan kebenaran versinya masing-masing.’

Artinya, dia menganggap, orang yang merasa benar, otomatis bakal memaksakan kebenarannya itu. Padahal kalau dia mau belajar Islam sedikit lebih jauh, dia bakalan nemu ayat ‘laa ikrooha fiddiin’; nggak ada paksaan dalam beragama. Kalau diajak nggak mau, ya jangan dipaksa.

Mengenai masalah ‘merasa paling benar’ ini, Afi juga mewanti-wanti kita agar tak melabeli orang bakal masuk Surga/Neraka. Biar Tuhan yang melabeli.

Aku heran dengan pendapat ini. Bukankah begitu sejak dulu? Para penganut agama melabeli macem-macem atas petunjuk Tuhan/kitab suci mereka. Jadi yang melabeli bukan manusia, tapi Tuhan mereka.

Aku tahu, menurut pemikiran temanku yang nasrani, aku bakal masuk neraka. Begitu juga sebaliknya. Apakah itu menimbulkan masalah untuk kami? Nggak juga. Kami sama-sama tahu diri untuk menghormati keyakinan masing-masing. Kami berdua sama-sama merasa paling benar, tapi tidak membuat kami bersitegang. Lakum diinukum wa liya diin.

Beda urusannya kalau tiba-tiba salah satu dari kami mulai menista. Inilah latar belakang perselisihan antar agama. Bukan karena masing-masing meng-klaim paling benar, seperti kata Afi.

Jadi tak perlu cerita ke anak cucu kelak, kalau Indonesia pernah hampir tercerai berai karena warisan. Namun berceritalah ke anak cucu kelak, bahwa Indonesia hampir tercerai berai karena munculnya para penista rasis intoleran.

Jangan bilang, “Negara lain sudah pergi ke bulan, kita masih ribut soal agama.” Namun katakan, “Negara lain sudah pergi ke bulan, kita masih ngurusin hukum yang belum sepenuhnya tegak.”

Wa Allahu a’lam

Opik Oman

Loading...