Home Viral Astaghfirullah, Tak Punya Uang Untuk Berobat, Pria yang Miliki Benjolan Sangat Besar...

Astaghfirullah, Tak Punya Uang Untuk Berobat, Pria yang Miliki Benjolan Sangat Besar di Lehernya ini Hanya Bisa Merintih Kesakitan!

20

Suhis (58), tidak hentinya mengerang kesakitan dan sesekali menitikkan air mata. Sambil menadahkan sebuah pot hitam berisi uang recehan, pria paruh baya ini meminta belas kasihan kepada orang-orang maupun kendaraan yang lalu-lalang, yang sudi memberi bantuan padanya.

Namun yang membuat pilu bagi siapa saja yang melihat kondisi Suhis, ialah benjolan besar menggantung di leher pria ini. Jika dilihat dari kondisinya, Suhis tampak mengalami penyakit goiter atau lebih dikenal dengan gondok.

Tampak benjolan di leher tersebut sangat besar menggantung hingga sebatas dada. Dijumpai saat berjongkok di sebuah jembatan di Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) Desa Sukarami, Kecamatan Pemulutan, Kabupaten Ogan Ilir (OI), Suhis mengaku jika ia sengaja ‘menampakkan’ diri di kawasan tersebut untuk meminta uluran tangan masyakarat.

Warga Lorong Marsawa, Kelurahan 14 Ilir, Kecamatan Ilir Timur (IT) l, Palembang ini mengaku hampir setiap hari datang ke tempat tersebut.

Debu bertebaran, hiruk-pikuk, suara bising dan asap kendaraan serta teriknya matahari tidak menghalangi Suhis mencari rezeki untuk mengobati penyakitnya.

“Dari jam pagi sampai sore aku di sini,” kata Suhis saat dijumpai di jembatan Jalinsum Desa Sukarami, Kamis (10/8/2017).

Dari rumah menuju desa Sukarami, Suhis mengaku sering menumpang bus kota maupun truk. Pria yang memiliki dua anak dan seorang istri ini mengaku selalu meminta izin kepada keluarga setiap kali bepergian mencari rezeki di luar.

Menurut Suhis, keluarga sangat paham dan prihatin dengan kondisinya, namun tidak berdaya untuk membantu selain mengizinkan ia mencari rezeki di luar.

“Anak dan bini tahu kalau aku pergi keluar. Mau bagaimana lagi, aku butuh biaya mengobati penyakit ini karena istri jadi tukang cuci, anak dua masih sekolah semua,” terang Suhis sambil sesekali mengernyitkan dahi dan melebarkan bibir, menahan sakit di bagian leher.

Menurut Suhis, ia telah menderita penyakit tersebut selama 12 tahun. Selama berkutat dengan penyakitnya ini, Suhis mengaku tidak memiliki uang untuk berobat. Ia mengaku belum pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah maupun dermawan yang bersedia mengobati penyakitnya.

“Yang bantu belum ada, kami tidak ada biaya. Pernah sekali berobat, tapi benjolan di leher malah tambah besar,” ungkapnya.

Dengan kondisinya tersebut, Suhis mengaku sering merasakan sakit luar biasa di leher dan terkadang timbul rasa pusing di kepala.

“Sakit sekali setiap hari seperti ini. Tapi kalau diam saja di rumah percuma juga, makanya pergi keluar,” tutur Suhis.

Sebelum mengidap penyakit ini, Suhis mengaku bekerja sebagai buruh bangunan. Namun sejak benjolan di lehernya mulai tumbuh dan semakin membesar, Suhis berhenti bekerja dan memilih menggantungkan hidup pada belas kasihan orang lain.

“Aku ni kadang minta-minta di Palembang, kadang ke Pemulutan sini,” kata Suhis dengan ekspresi menahan rasa sakit.

Dengan upayanya meminta bantuan pada masyarakat, Suhis mengaku dapat mengumpulkan uang rata-rata Rp 50 ribu perharinya.

Suhis mengaku bersyukur dengan uang hasil uluran tangan masyarakat tersebut, meskipun menurutnya tidak cukup untuk biaya operasi karena harus memenuhi kebutuhan keluarga, seperti makan dan biaya sekolah anak.

Di usia yang mulai senja, Suhis berharap tetap diberikan kesehatan oleh Yang Mahakuasa sehingga dapat menghidupi keluarga.

“Aku ni sudah tuo, aku cuma pengen sembuh. Aku pengen menyekolahkan anak agar mereka semua jadi orang sukses,” katanya sambil terus melanjutkan aktivitas menadahkan wadah uang di tangannya kepada pengendara yang lewat.

Loading...