Home Berita Akibat Panik, Jokowi Salah Reaksi Kepada TNI

Akibat Panik, Jokowi Salah Reaksi Kepada TNI

94
Loading...

Gema Rakyat – Saya menemukan satu keanehan pada statment Presiden Joko Widodo (Jokowi), yang menegaskan bahwa dirinya adalah Panglima Tertinggi TNI. “Sebagai kepala pemerintahan, sebagai kepala negara, sebagai panglima tertinggi Angkatan Darat, Laut, dan Udara, saya ingin perintahkan kepada bapak, ibu, saudara sekalian, fokus pada tugas masing-masing,” kata Jokowi dalam sidang kabinet paripurna di Istana Negara tempo hari.

Dalam analisa saya, kalimat itu cukup itu menjelaskan bahwa Jokowi sedang cemas. Ketidakcakapan Jokowi mengendalikan kepemimpinan nasional, telah memicu banyak kecemasan dalam pemerintahannya. Termasuk kecemasannya terhadap pembangkangan militer.

Sebagai orang yang sedikit banyak mempelajari ilmu kepemimpinan, saya bisa katakan bahwa ada degradasi mental dalam diri Jokowi. Yang kemudian itu menjelaskan tentang situasi kabinet dalam pemerintahannya. Kepercayaan diri Jokowi dalam memimpin republik ini, jelas terlihat mulai memudar. Dan ini berbahaya bagi situasi politik, ekonomi dan keamanan negara kita.

Jokowi terkesan cemas dikudeta oleh militer. Padahal, hantu kudeta militer itu justru muncul dari internal kabinet dan dari dirinya sendiri. Namun malangnya, kecemasan itu terus menerus diproduksi dan diutarakan kepada publik, tak lain bertujuan untuk menarik simpati publik dan mengkandangkan militer. Jokowi dan kabinetnya tampak benar-benar ketakutan dengan gerakan yang mungkin muncul dari militer. Padahal sekali lagi, itu hanyalah hantu yang mereka ciptakan sendiri.

Belajar dari pengalaman sejarah, kudeta militer diberbagai negara di dunia, biasanya disebabkan oleh ketidakmampuan pemerintah dalam mengendalikan politik sipil, kurang demokratis, dan tidak mampu mengendalikan situasi ekonomi. Ketiga hal tersebut memang sering memicu pembangkangan militer diberbagai negara.

Melihat fakta sejarah itu, lalu kita korelasikan dengan pernyataan Jokowi diatas, tentu menjadi semakin jelas bahwa ketiga hal tersebut berarti tidak selesai oleh pemerintah.

Pertama, kabinet Jokowi tidak cakap dalam mengendalikan situasi politik nasional, gelombang protes terus muncul dari rakyat, baik itu protes melalui demonstrasi terbuka dan protes di sosial media.

Kedua, Mereka tidak cakap dalam menerapkan konsep demokrasi di Indonesia. Penangkapan demi penangkapan kepada para kritikus massif terjadi. Penegakan hukum yang adil terasa tidak dijalankan dengan baik.

Dan ketiga, kabinet Jokowi tidak mampu mengendalikan situasi ekonomi nasional. Hutang terus membesar, lapangan kerja semakin sempit (ditandai dengan tutupnya beberapa gerai usaha seperti seven eleven, matahari dan Ramayana).

Karena ketiga hal tersebut tidak mampu dikendalikan oleh kabinet Jokowi, praktis mempengaruhi hubungan antara sipil dan Pemerintah. Biasanya, situasi seperti inilah yang menyebabkan munculnya gerakan pembangkangan dari militer. Fakta itulah yang kemudian menimbulkan kecemasan dalam diri Jokowi dan juga dalam internal kabinet. Maka tak heran, bila kemudian Jokowi membuat pernyataan seperti tersebut diatas.

Walaupun sebenarnya, saya juga tidak begitu yakin militer kita bakal melakukan pembangkangan. Mengingat rekam jejak militer kita tidak pernah melakukan pembangkangan kepada pemerintah hasil proses demokrasi. Adapun pernyataan-pernyataan jenderal Gatot Nurmantyo yang sering dipersepsikan sebagai bentuk manuver kepada Pemerintah, itu hanya sebagai bentuk dari akumulasi dari keresahan yang tengah dirasakan rakyat dan juga kecemasan yang tumbuh dalam diri pemerintah sendiri, akibat ketidakmampuannya dalam soal pengendalian-pengendalian tadi.

Maka sebenarnya, hari ini kita dihadapkan dengan realitas kepemimpinan yang lemah. Kepemimpian yang tidak percaya diri. Kepemimpinan yang penuh dengan kecemasan karena telah sadar melakukan banyak kekeliruan. Atau lebih tepatnya, kita sedang dihadapkan dengan kepemimpinan tanpa visi. Alhasil, kegaduhan demi kegaduhan pun terpaksa harus kita telan setiap hari.[Gema Rakyat / akt]

Loading...