Home Berita Belajar Mencintai Agama dari Seorang Panglima Besar Jenderal Sudirman

Belajar Mencintai Agama dari Seorang Panglima Besar Jenderal Sudirman

61
Loading...

Gema Rakyat – Lahir pada 24 Januari 1916, Jenderal Besar Raden Sudirman dikenal sebagai panglima besar Tentara Nasional Indonesia (TNI) pertama di Indonesia. Lahir dari pasangan rakyat biasa di Purbalingga, Hindia Belanda, Sudirman diadopsi oleh pamannya yang seorang priyayi.

Setelah keluarganya pindah ke Cilacap pada tahun 1916, Sudirman tumbuh menjadi seorang siswa rajin; ia sangat aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler, termasuk mengikuti program kepanduan yang dijalankan oleh organisasi Islam Muhammadiyah.

Saat di sekolah menengah, Sudirman mulai menunjukkan kemampuannya dalam memimpin dan berorganisasi, dan dihormati oleh masyarakat karena ketaatannya pada Islam.

Karena berlatar belakang pernah mengenyam pendidikan di organisasi Islam seperti Muhammadiyah, Jenderal Sudriman dikenal pribadi yang sangat taat beribadah.

Sejumlah ulama, kyai dan ustaz yang sering menceritakan bahwa Jenderal Sudirman mempunyai ‘jimat’ saat perang gerilya dengan tanpa pernah meninggalkan wudhu bukan hanya isapan jempol. Begitu pula saat diceritakan Jenderal Sudirman selalu melaksanakan salat di awal waktu juga tidak keliru.

Malahan yang perlu diketahui generasi saat ini sebagai sebuah pelajaran berharga sosok pahlawan kemerdekaan RI ini, Jenderal Sudirman sangat rajin melaksanakan salat malam.

Pada suatu kesempata, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo yang banyak membaca tentang Jenderal Sudriman mengatakan bahwa ada kisah menarik tentang pahlawan nasional Panglima Besar Jenderal Sudirman yakni selalu lolos dari pengejaran penjajah Belanda dalam peperangan.

Lalu ada prajurit yang bertanya kepada Pak Dirman. “Beliau ini kadang dipanggil Pakde kadang dipanggil Pak Kyai,” kata Gatot.

“Pak Kyai apa sih ‘jimatnya’ kok bisa selalu lolos?” tanya sang prajurit.

Lalu Jenderal Sudirman menjawab, ada tiga yang saya selalu lakukan.

“Yang pertama, saya tidak pernah tidak bersuci, dalam artian tidak pernah batal wudhu. Kedua, saya tidak pernah shalat tidak tepat pada waktunya, jadi selalu shalat tepat waktu. Dan yang ketiga, semua yang saya lakukan itu untuk kepentingan negara kesatuan republik Indonesia,” ungkap Gatot.

Sudirman wafat kurang lebih satu bulan setelah Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia tepatnya pada 29 Januari 1950 pada umur 34 tahun. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta.

Kematian Sudirman menjadi duka bagi seluruh rakyat Indonesia. Bendera setengah tiang dikibarkan dan ribuan orang berkumpul untuk menyaksikan prosesi upacara pemakaman. Sudirman terus dihormati oleh rakyat Indonesia. Namanya sudah banyak diabadikan sebagai nama jalan, gedung dan lain-lain.[Gema Rakyat / okz]

Loading...
Loading...