Home Berita Cerita Nisan Pejuang Sejati dan Burung Sriti Jelang G30S/PKI

Cerita Nisan Pejuang Sejati dan Burung Sriti Jelang G30S/PKI

119

Gema Rakyat – Mayor Jenderal Siswondo Parman dan istri memiliki sebuah kebiasaan di setiap malam Jumat, yakni tak tidur sebelum pukul 24.00. Pun malam itu, Kamis, 30 September 1965. Pasangan suami-istri yang tinggal di Jalan Serang Nomor 32 itu baru beranjak ke peraduan tepat tengah malam.

Namun, tengah malam itu sebelum tidur, Parman dan istri dikagetkan oleh banyaknya burung gereja dan burung sriti di kamar tamu. “Lo kok banyak sekali burung gereja di kamar tamu itu?” kata Parman seperti dikutip dari buku ‘Kunang-kunang Kebenaran di Langit Malam’, yang dikutip detikcom, Jumat (29/9/2017).

“Ah sudahlah, tidur saja,” jawab Sumirahayu, sang istri.

nisan2 - Cerita Nisan Pejuang Sejati dan Burung Sriti Jelang G30S/PKI

Belum reda kaget Jenderal Parman, tiba-tiba ruang tamunya kedatangan burung sriti. “Lho, sekarang banyak burung Sriti?” kata dia.

Loading...

Musabab sudah larut malam, Jenderal Parman dan istri pun beranjak ke kamar untuk tidur. Pada pukul 03.00 dini hari, Sumirahayu bangun dan sempat menikmati sejuknya udara Jakarta yang belum tercemar asap kendaraan. Suasana pun masih sangat sepi dan hening.

Namun satu jam kemudian, keheningan itu pecah ketika sejumlah kendaraan truk tentara merapat ke rumahnya. Derap kaki tentara yang turun dari truk dan menghambur ke rumah membuat suasana begitu ribut. Jenderal S Parman pun terbangun.

“Lho, kok Tjakra,” tanya Parman.

“Ya, Pak! Saya diperintahkan Panglima Tertinggi (Sukarno) untuk mengambil Bapak,” jawab salah satu prajurit Tjakra.

Kepada Parman, prajurit Tjakra itu mengatakan keadaan negara sedang genting. Karena curiga, Sumirahayu menanyakan surat perintah dan identitas si penjemput. Sedangkan Jenderal Parman ke kamar untuk berganti pakaian dengan seragam dinas ketentaraan.

nisan3 - Cerita Nisan Pejuang Sejati dan Burung Sriti Jelang G30S/PKI

Begitu keluar, Parman kaget lantaran banyak prajurit Tjakra di halaman rumahnya. Dia memerintahkan sang istri menghubungi Menpangad Letjen Ahmad Yani, namun sambungan telepon rumah sudah diputus.

Jenderal Parman pun dibawa oleh prajurit Tjakrabirawa bukan ke Istana untuk bertemu dengan Presiden Sukarno, melainkan ke Lubang Buaya di kawasan Halim, Jakarta Timur. Di Lubang Buaya, S. Parman dibunuh dan dimasukkan ke sumur tua bersama lima jenderal lainnya.

Jenazahnya baru ditemukan tiga hari kemudian. Tepat pada hari ulang tahun TNI, 5 Oktober 1965, jenazah mereka dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta Selatan.

Selain kedatangan burung gereja dan burung sriti, sang jenderal menunjukkan isyarat sebelum mangkat. Setengah tahun sebelum G 30 S/PKI, Parman berjalan-jalan dengan sang istri di Taman Makam Pahlawan, Kalibata. Persis di depan gerbang TMP, S. Parman mendadak menghentikan mobilnya.

Kepada sang istri, Parman berpesan agar setelah meninggal nanti dimakamkan di TMP Kalibata. Dia merasa TMP adalah tempat istirahat abadinya yang membahagiakan. Dia juga berpesan agar di batu nisannya nanti dibuat tulisan: Pejuang Sejati.

Dua minggu sebelum malam kelam 1 Oktober 1965, S. Parman mendampingi Letjen Ahmad Yani ke Nusa Tenggara. Dia pun berpamitan kepada sang istri, “Jeng, hati-hati di rumah ya! Saya akan pergi ke perbatasan, mungkin di sana nanti saya ditembak musuh.”

Semua pertanda itu tak begitu dipikirkan oleh Sumirahayu. Hingga akhirnya, Jumat dini hari itu, empat jam selepas kedatangan burung gereja dan burung sriti di ruang tamu, gerombolan prajurit Tjakrabirawa datang menculik S. Parman dan membunuhnya. [Gema Rakyat / dtk]

Loading...