Home Berita Jepang Sengaja tak Menembak Peluru Kendali Korea Utara

Jepang Sengaja tak Menembak Peluru Kendali Korea Utara

26

Gema Rakyat – Jepang sengaja tak meluncurkan peluru kendalinya untuk mengantisipasi rudal Korea utara (Korut) melintasi Hokkaido pukul 07.06 pagi, Jumat (15/9/2017) lalu.
“Pasukan Jepang dan tim kontrol anti rudal Jepang semua sudah tahu kalau Korut akan meluncurkan rudal ICBM (peluru kendali balistik antar benua) nya. Saat diluncurkan pun Jepang sudah tahu koordinat peluncuran dan lokasi jatuhnya,” ungkap sumber Tribunnews.com.

Beberapa hari terakhir ini banyak yang mempertanyakan mengapa Jepang tidak menembak rudal yang melintasi Hokkaido tersebut untuk kedua kali dalam beberapa minggu ini.

Ternyata kecanggihan Jepang termasuk kontrol pemetaan satelit yang didukung oleh Amerika Serikat (AS) sebenarnya telah bisa mendeteksi semua gerakan Korut dari satelit mata-matanya.

“Adanya pergerakan persiapan peluncuran rudal oleh Korut berdampak siap siaga satu antisipasi rudal yang akan diluncurkan Korut tersebut. Jadi sejak awal pencet tombol rudal Korut sebenarnya sudah diketahui pihak Jepang,” tambahnya.
Sejak saat pencet tombol pun info target sudah terdeteksi ke mana dan di mana jatuhnya.

Loading...

“Tidak ada gunanya Jepang menembakkan Aegis atau PAC-3 nya kalau sudah tahu (terprediksi segera) ke mana bakal jatuh rudal tersebut, membahayakan atau tidaknya,” kata dia.

Apakah Korut punya teknologi canggih untuk mengubah alur jelajah rudal tersebut secara mendadak apabila telah dekat atau di atas udara Jepang?

“Kemampuan canggih rudal Korut belum ada untuk mendadak mengalihkan arah rudal yang telah ada di atas udara Jepang,” ujarnya.

Jika kemampuan canggih tersebut telah dimiliki Korut, diakuinya hal tersebut menjadi sangat berbahaya karena beda hitungan detik saja, lolos tak tertembak rudal darat dan laut Jepang, maka korban akan banyak berjatuhan.

Divisi strategi pertahanan Jepang langsung melaporkan gerakan membahayakan persiapan rudal Korut atau adanya tanda bahaya kepada menteri pertahanan yang langsung melapor ke Perdana Menteri Jepang.

Saat-saat genting tersebut memang selalu dimonitor PM Jepang setelah mendapat tanda bahaya awal dari menteri pertahanan dan sekretaris kabinetnya yang merupakan orang nomor dua di Jepang dalam struktur aba-aba dan approval peluncuran Aegis atau THAAD atau PAC-3 menghadapi Korut.

“Tidak ada keterlambatan atau hal yang tak bisa dilakukan Jepang apabila ada peluncuran rudal dari Korut atau hal membahayakan negara Jepang meskipun PM Jepang berada di luar Jepang. Karena struktur approval antisipasi rudal sudah jelas, (tongkat komando) sudah jelas dan gerakan serta perkiraan tembakan rudal pun sudah dapat diprediksi ke mana jatuhnya,” jelas dia.

Jika dipaksakan menghajar rudal Korut padahal sudah tahu ke mana prediksi kuat jatuhnya bom tersebut, justru banyak kerugiannya.

Menurutnya, selain membuat suasana semakin tegang dan muram, kemungkinan munculnya perang membahayakan rakyat Jepang.

Juga akan berdampak pada segala hal di dunia, mulai nilai tukar uang asing, dampak perekonomian yang besar, dampak politik yang besar, dampak sosial dan kesejahteraan yang besar serta berdampak pada berbagai hal lainnya karena Jepang sudah mulai terlibat dalam pertempuran senjata militer.

“Itu lah sebabnya Jepang tidak menembakkan anti rudalnya ke arah rudal Korut tersebut karena memang masih belum dianggap ancaman langsung kepada Jepang,” kata dia.

Tetapi kalau terdeteksi rudal Korut dikunci menuju target daratan Jepang, artinya membahayakan rakyat Jepang, dipastikan Jepang akan mengantisipasi dengan tiga peralatan canggih anti rudalnya baik Aegis, THAAD maupun PAC-3.

Tingkat ketepatan tembak ketiga peralatan militer canggih tersebut sudah mencapai di atas 90 persen yang berarti tidak akan lolos rudal lawan apabila dihantam alat canggih tersebut.[tn]

Loading...