Home Berita Lepas Kepergian Tujuh Pahlawan Revolusi, Ini yang Diucapkan Jendral AH Nasution

Lepas Kepergian Tujuh Pahlawan Revolusi, Ini yang Diucapkan Jendral AH Nasution

162
Loading...

Gema Rakyat – Pada tanggal 1 Oktober dini hari, Indonesia pernah diguncang peristiwa penculikan 6 orang perwira tinggi dan 1 orang perwira pertama Angkatan Darat. Peristiwa kelam itu lazim disebut dengan G30S/PKI.

Dari 7 orang perwira tinggi yang menjadi target, 1 orang berhasil meloloskan diri, yaitu Jenderal Ahmad Haris Nasution tetapi seorang ajudannya ikut diculik. Sementara 6 perwira tinggi lainnya dibunuh dan mayatnya dipendam dalam sumur Lubang Buaya, Jakarta Timur. Beberapa hari kemudian, mayat para jenderal tersebut berhasil ditemukan.

Peristiwa G30S/PKI baru sejatinya dimulai pada tanggal 1 Oktober pagi, dimana kelompok pasukan bergerak dari Lapangan Udara Halim Perdana kusuma menuju daerah selatan Jakarta untuk menculik 7 jendral yang semuanya merupakan anggota dari staf tentara. Tiga dari seluruh korban yang direncanakan, mereka bunuh di rumah mereka yaitu Ahmad Yani, MT Haryono, dan DI Panjaitan.

Ketiga target lain yaitu Soeprapto, S Parman, dan Sutoyo ditangkap hidup-hidup, sementara target utama mereka, Jendral Abdul Harris Nasution berhasil kabur setelah melompati dinding yang berbatasan dengan taman di kedutaan besar Iraq. Meski begitu, Pierre Tendean yang menjadi ajudan pribadinya ditangkap, dan anak gadisnya yang berusia lima tahun, Ade Irma Suryani Nasution, tertembak oleh regu sergap dan tewas.

Mayat dan jenderal yang masih hidup kemudian dibawa ke Lubang Buaya, dan semua dibunuh serta mayatnya dibuang di sumur dekat markas tersebut.Beberapa hari kemudian mayat-mayat Pahlawan Revolusi itu baru ditemukan.

Ketika melepas tujuh jenazah Pahlawan Revolusi untuk dimakamkan, Jendral AH Nasution sempat mengatakan bahwa pada peristiwa itu merupakan hari penghinaan terhadap almamaternya.

“Hari ini hari angkatan bersenjata kita, hari yang selalu gemilang. tapi yang kali ini, hari yang dihinakan, oleh fitnahan, dihinakan oleh penghianatan, dihinakan oleh penganiayaan,” kata Nasution sambil terisak tangis.

Nasution juga mengatakan bahwa peristiwa hari itu adalah fitnah yang sangat keji. “Fitnah, fitnah berkali kali. Fitnah, lebih jahat dari pembunuhan, fitnah lebih jahat dari pembunuhan. Kita semua difitnah, dan saudara-saudara telah dibunuh,” lanjutnya.

Pidato Nasution pada hari itu diwarnai isak tangis pelawat yang ikut menghantarkan jazad ketujuh pahlawan revolusi tersebut.

“Kita diperlakukan demikian. Tapi jangan kita, jangan kita dendam hati. Iman kepada Allah SWT, iman kepada-Nya, mengukuhkan kita, karena Dia perintahkan. Kita semua berkewajiban, untuk menegakan keadilan dan kebenaran,” imbuh Nasution diiringi derai air mata.[Gema Rakyat / okz]

Loading...