Home Berita Lieus Meluruskan Kasus Patung Dewa Budha di Tuban

Lieus Meluruskan Kasus Patung Dewa Budha di Tuban

259

Gema Rakyat – Beberapa pekan belakangan ini keberadaan Patung Dewa Kongco Kwan Sing Tee Koen di kompleks Tempat Ibadah Tri Dharma Kwan Sing Bio, Tuban, Jawa Timur menjadi perbincangan hangat masyarakat dan memicu pro kontra di media sosial.

Patung Dewa setinggi 30,4 meter ini sebetulnya sudah diresmikan pertengahan Juli lalu oleh Ketua MPR RI, Zulkifli Hasan dan tidak ada masalah apapun. Pro kontra baru timbul belakangan ketika Patung yang diklaim sebagai patung tertinggi di Asia Tenggara dengan biaya pembangunan senilai Rp. 2,5 milyar itu viral di media sosial.

Mantan Ketua Umum Generasi Muda Buddhis Indonesia (Gemabudhi), Lieus Sungkharisma mengakui jika pro dan kontra soal patung itu semakin panas ketika sejumlah unggahan di media sosial mengait-gaitkan keberadaan patung tersebut dengan nama pahlawan nasional dan kedaulatan NKRI. Ada pula yang menyebutnya berdiri di tengah alun-alun kota Tuban.

Sejumlah organisasi massa di Jawa Timur seperti FKPPI, PPM, Pemuda Pancasila, Kokam, bahkan ikut melakukan aksi dan mengultimatum agar dalam waktu 7 x 24 jam Patung Dewa Kongco Kwan Sing Tee Koen tersebut dirobohkan.

Loading...

“Publik pun langsung bereaksi padahal tidak tau dengan jelas duduk soalnya,” kata Lieus kepada redaksi, Selasa (8/8).

Kontroversi terkait berdirinya Patung Dewa Kongco Kwan Sing Tee Koen di kompleks Tempat Ibadah Tri Dharma Kwan Sing Bio Tuban tersebut pun dikecaman keras oleh Lieus. Menurut dia, kontroversi itu seharusnya tidak terjadi kalau saja para pengurus Kelenteng Kwan Sing Bio mampu bersikap arif dan bijaksana dengan mengedepankan kepentingan umat daripada kepentingan pribadi.

“Masalah ini sebenarnya dipicu oleh persoalan internal kepengurusan di dalam Klenteng Kwan Sing Bio sendiri,” katanya.

patung%2Bcina%2Btuban - Lieus Meluruskan Kasus Patung Dewa Budha di Tuban

Menurut Lieus, ada salah seorang pengurus atau mantan pengurus yang selalu berseberangan dengan kebijakan pengurus lainnya, lalu diberhentikan dari kepengurusan tapi orang itu melawan dengan membuat macam-macam skenario.

“Salah satunya adalah dengan menyebarkan informasi bohong tentang patung Dewa Kong Co Kwan Sing Tee Koen ini,” ujarnya.

Sejak tahun 2013 hingga hari ini, tambah Lieus, konflik internal terkait kepengurusan di kelenteng Kwan Sing Bio itu belum berakhir.

“Akibatnya, kini yang menjadi korban malah Patung Dewa Kongco Kwan Sing Tee Koen yang sangat dihormati orang Buddha,” ungkapnya.

Padahal, jelas Lieus, patung itu bukan patung Panglima Perang Tiongkok. Patung itu adalah Patung Dewa Kongco Kwan Sing Tee Koen yang merupakan salah satu Dewa yang paling dihormati dan disembah oleh umat Buddha.

“Sebagai penganut Tridharma, saya sendiri adalah pemuja dan penyembah Dewa Dewa Kongco Kwan Sing Tee Koen. Agar tau saja, dalam perkara di pengadilan, umat Buddha bahkan disumpah didepan gambar Kwan Kong,” tambahnya.

Lieus pun menyesalkan adanya sejumlah Ormas seperti FKPPI, Pemuda Pancasila, Kokam dan PPM yang notabene merupakan organisasi seperjuangan Gemabudhi, justru ikut-ikutan bereaksi negatif atas keberadaan patung tersebut tanpa mau lebih dulu mengklarifikasi informasi yang mereka terima.

Lieus berharap teman-teman Ormas tidak ikut-ikutan terjebak dalam konflik internal di Klenteng Tridharma Kwan Sing Bio. Desakan agar merubuhkan Patung Dewa Kongco Kwan Sing Tee Koen di kompleks Tempat Ibadah Tri Dharma Kwan Sing Bio itu menurut Lieu sama saja dengan merubuhkan kepercayaan umat Buddha terhadap Dewa yang dipercayainya.

“Jadi, menurut saya biarlah konflik internal di Kelenteng Kwan Sing Bio ini diselesaikan secara internal oleh kami, kalangan umat Buddha sendiri,” katanya.

Apalagi, tambah Lieus, Ketua MUI Tuban, KH Abdul Matin sudah menjelaskan bahwa keberadaan Patung Dewa Kongco Kwan Sing Tee Koen di kompleks Tempat Ibadah Tri Dharma Kwan Sing Bio Tuban tersebut tidak ada hubungannya dengan SARA ataupun kedaulatan NKRI.

“Kalaupun ada persoalan hanya menyangkut administrasi saja. Terkait soal perizinan,” kata Lieus menirukan pernyataan Ketua MUI Tuban.

Lagi pula, tambah Lieus, meski tinggi, Patung itu tidak terlihat dari luar kompleks tempat ibadah. Lieus menegaskan, Kong Co Kwan Sing Tee Koen bukan panglima perang, tapi merupakan Dewa Keadilan karena ada dua kata yang mempunyai makna setia dan bijaksana yang melekat di patung itu.

“Bagi umat Buddha Tridharma, Patung yang mulia Kong Co Kwan Sing Tee Koen adalah simbol Keadilan, Kebijaksanaan dan Keberanian.” jelasnya.

Oleh karena itu, Lieus mengimbau agar pemerintah, dalam hal ini Dirjen Bimas Buddha, hendaknya lebih pro aktif dan tidak hanya mengambil peran terhadap penyelesaian konflik di internal umat Buddha. Dirjen Bisa Buddha diminta untuk memberi penjelasan yang pada umat lainnya mengenai persoalan ini sesuai dengan apa yang termaktub di dalam trilogi kerukunan umat beragama. Yakni kerukunan intern umat beragama, kerukunan antar umat beragama dan kerukunan antar umat beragama dengan pemerintah.

“Trilogi Kerukunan itu masih relevan untuk diterapkan sampai sekarang,” demikian Lieus. [Gema Rakyat / emc]

Loading...