Home Berita Masih SetNov: Software Antikorupsi Dikalahkan Hologram Fulus

Masih SetNov: Software Antikorupsi Dikalahkan Hologram Fulus

47

Gema Rakyat – Dalam tulisan terdahulu, kita bahas soal software (piranti lunak) prokorupsi yang banyak dipakai oleh para koruptor di Indonesia. Mereka mendownload (mengunduh) software itu ke komponen otak depan yang disebut “lobus frontalis”. Sehingga, otak depan menjadi terisi oleh fitur-fitur yang diperlukan untuk perencanaan dan pelaksanaan korupsi. Dengan fitur yang sama, perbuatan korupsi bisa disembunyikan.

Kali ini kita bicarakan software antikorupsi. Apakah sudah ada?

Microsoft, Oracle, IBM, dan merek-merek beken lainnya dikabarkan sudah pernah merancang software antikorupsi. Tetapi, perusahaan-perusahaan itu mengatakan mereka mendapat ancaman dari sejumlah orang di Indonesia. Kemungkinan besar yang mengancam itu adalah sindikat koruptor.

(Warning: jangan terlalu serius, ini cuma kisah metaforik alias fiksi).

Loading...

Para pembuat software terkenal itu mengatakan, dalam satu ancaman lewat email yang berasal dari Indonesia, si pengancam melampirkan gambar senjata berat termasuk SAGL (Stand Alone Grenade Launcher) kaliber 40×46. Alias peluncur granat. Melihat gambar SAGL itu, perushaaan-perusahaan tsb menafsirkan bahwa si pengancam akan menyerang markas mereka dengan SAGL jika mereka membuat sotware antikorupsi.

Karena itu, mereka menangguhkan produksinya. Menunggu sampai nanti si pengancam sudah kehabisan SAGL.

Masalah lain yang dihadapi oleh perusahaan-perusahaan software adalah kekalahan mereka untuk mengungguli para pembuat software prokorupsi, terutama yang ada Indonesia. Perangkat lunak prokorupsi buatan Indonesia sukar untuk ditandingi karena rumusan software ini digali dari tradisi korupsi ala Indonesia. Mircrosoft, Oracle, IBM, dll, menyerah.

Semua perusahaan itu angkat tangan karena software prokorupsi buatan Indonesia rupanya memiliki dua fitur khusus yang belum bisa dirumuskan oleh para pakar IT yang ada di semua pabrik piranti lunak di Barat.

Salah satu fitur itu disebut “bluffing” dan yang satu lagi “intimidating”. Yang pertama (bluffing) mengandung konten yang bisa dipakai untuk “menggertak”. Yang kedua (intimidating) mengandung konten untuk “mengintimidasi” alias “mengancam”. Semua koruptor yang “lobus frontalis”-nya diisi dengan kedua fitur ini, memiliki kemampuan menggertak dan mengintimidasi.

Jadi, berbekal kedua fitur ini, para koruptor di Indonesia bisa menggertak dan sekaligus mengintimidasi siapa saja, baik orang yang menjadi rekanan korupsi mereka maupun orang-orang yang bertugas memberantas korupsi.

Software prokorupsi buatan lokal itu kemungkinan besar sudah dipasang secara rahasia di berbagai lembaga penegak hukum, termasuk di tingkat praperadilan. Menurut dugaan, yang memasangnya adalah sindikat koruptor.

Selama ini, ada software antikorupsi yang juga buatan Indonesia sudah di-install di kalangan juruperiksa dan hakim. Tetapi, selalu saja ada masalah. Kalah canggih dengan software prokorupsi.

Ada beberapa kelebihan software prokorupsi buatan Indonesia. Salah satunya adalah, kalau diunduh ke “lobus frontalis” Anda, mata Anda bisa memantulkan hologram US$, Euro, Yuan, Rupiah, dll. Kalau hologram itu terpandang oleh aparat penegak hukum yang sedang menangani kasus korupsi, mereka hampir pasti akan terhipnotis.

Karena itu, sambil menunggu software antikorupsi yang lebih kuat, kita hanya bisa berdoa semoga instansi penegak hukum, terutama tingkat praperadilan, bisa tetap tegar menghadapi hologram fulus yang terpancar dari “lobus frontalis” para koruptor melalui mata mereka, ketika mereka sedang diperiksa.[Gema Rakyat / ipc]

Loading...