Home Berita Pemikiran “Nyeleneh” Inayah Wahid dalam Tragedi Rohingya

Pemikiran “Nyeleneh” Inayah Wahid dalam Tragedi Rohingya

58

Gema Rakyat – Di acara kompas TV (12/9/2017), Inayah Wahid yang bernama asli Inayah Wulandari bertindak sebagai HOST di acara “NGOPI” Kompas TV yang membahas persoalan Rohingya yang lagi hangat di publik.

Layaknya seorang host, seharusnya bertindak netral atas permasalahan yang ada, bukan malah menjadi NARASUMBER yang memandang dari segi berbeda.

Ada Natalius Pigai (dari Komnas HAM) dan Yakult (GP Ansor) sebagai narasumber yang memiliki pandangan berbeda. Selain itu ada artis Olga Lidya dan juga Guntur Romli sebagai bunga-bunga acara. Yang satu bunga mawar, satunya lagi bunga ……

Ada perkataan Inayah yang menarik, saat Natalius Pigai berbicara bahwa konflik Rohingya adalah masalah ISLAMOPHOBIA dan juga masalah etnis atas keberadaan Rohingya, Inayah memberikan penjelasan pada Pigai.

Loading...

“Bicara tentang islamophobia, okelah kita tau tentang bhiksu Asin Wirathu yang bicara keras atas Rohingya, tapi kan dia tidak MEWAKILI UMAT BUDDHA DI SANA…dst”

Saya garis bawahi tentang perkataan “Asin Wirathu yang tidak mewakili umat Budha Myanmar”. Inayah membela Budha Myanmar bahwa Budha disana tidak semuanya seperti Wirathu.

Di kesempatan lain, Inayah juga berbicara pada Pigai,

“Saya punya teman Buddhis di Myanmar mereka mengatakan takut ke Indonesia karena melihat di berita ada demo yang membentangkan spanduk bunuh Budha Myanmar”.

Disini kita bisa lihat bagaimana sosok Inayah seperti membuat framing.

Kalau di Myanmar Inayah bisa mengatakan bahwa Wirathu bukanlah gambaran Budha Myanmar, Inayah menganggap apa yang dilakukan Wirathu adalah sekelompok Budha radikal yang tidak menggambarkan Budha Myanmar. Namun untuk masalah demo di Indonesia yang mengatakan akan bunuh Budha Myanmar, Inayah tidak bisa menjelaskan pada teman Budhis nya itu bahwa gambaran yang melakukan demo itu BUKANLAH ISLAM INDONESIA.

Unik otak dia, entah apa maksud yang dia sampaikan tapi kita bisa menilai bahwa Inayah sendiri sudah menggambarkan bahwa Islam Indonesia sama dengan kelakuan para pendemo yang katakan akan bunuh Budha Myanmar.

Untuk Wirathu dia bisa tegas mengatakan bahwa itu bukan gambaran Budha Myanmar, namun untuk bangsanya sendiri dia tidak bisa katakan bahwa itu bukanlah gambaran Islam Indonesia seluruhnya.

Kalau dia bisa menjelaskan pada teman Budhis nya itu, tentu saja penilaian temannya itu tidak akan mengemuka. Sayang, Inayah tidak bisa tegas menjelaskan seperti dia tegas berkata pada Pigai bahwa kelakuan Wirathu tidak gambarkan keseluruhan Budha Myanmar.

Harusnya ia bisa menjelaskan pada teman Budhis nya itu bahwa kelakuan peserta demo itu hanyalah gambaran perasaan tidak terima atas perlakuan aparat Myanmar pada Rohingya. Dan pendemo itu bukanlah mewakili Islam Indonesia keseluruhan.

Jangan juga menyebutkan seperti kakaknya Alissa Wahid yang membuat persamaan Wirathu dengan FPI. Dimana Budha Myanmar tidaklah seperti Wirathu seperti halnya Islam Indonesia tidak semuanya FPI. Membuat kesejukan tanpa harus MENENDANG sesama itu lebih baik.

Kalau ajaran yang dipercayanya itu sejuk, maka sejukkanlah penjelasan yang dia bawa agar semua pihak bisa menerima dengan senyuman. Jangan sejuk itu hanya sebuah SLOGAN yang diperjual belikan.

Seandainya Inayah ini perannya sebagai duta perdamaian, maka ia telah GAGAL mengemban tugas itu. Karena dia telah membentuk stigma sendiri atau framing atas pendapatnya tentang pendemo di Indonesia.

Manusia itu dikenal hebat bukan karena warisan orang tuanya, manusia dikenal hebat ketika ia mampu berpijak pada segala SDM yang ada pada dirinya. Kalau manusia itu dihormati karena nama besar ayahnya, disitulah kesalahan selama ini.

Ketika dia salah, maka tidak akan ada kritik pada dirinya.

Karena yang akan memberi kritik terlalu takut mengatakan karena melihat penampakan bapaknya di wajah dia. Seolah apabila salahkan dia, maka kita menyalahkan bapaknya.

Kalau hal ini terus dibiarkan, maka apa yang akan terjadi…?

Kesalahan dia akan terus berlanjut tanpa ada koreksi atas apa yang dia lakukan. Dia akan jumawa dan akan merasa benar sendiri karena tidak ada kontrol atas apa yang dibicarakannya. Bahkan andai dia melakukan kejahatan sekalipun, maka itu juga akan di benarkan…karena ia adalah anak dari orang terpandang.

Nilailah manusia, dari apa yang di ucapkan dan apa yang di lakukannya. Jangan menilai manusia berdasarkan siapa bapaknya.***

[Video – KompasTV]

Tonton dan simpulkan… Pigai yang non muslim malah membela muslim Rohingya dengan tegas, sedangkan yang ngakunya Islam tapi…

Loading...